kami yang terbaring antara kerawang-bekasi
tidak bisa teriak “merdeka” dan angkat senjata lagi.tapi siapa lagi yang tidak mendengar deru
kami,terbayang kami maju dan mendegap hati?
kami bicara padamu dalam hening dimalam sepi
jika dada tersa hampa dan jam dinding berdetak
kami mati muda.yang tinggal tulang diliputi debu.
kenang,kenanglah kami.
kami sudah apa yang kami bisatapi keja belum selesai,belum juga bisa menghitung arti 4-5 ribu nyawa
kami cuma tulang-tulang berserakan
tapi adalah kepunyaanmu
kaulah lagi yang tentekukan nilai tulang yang berserakan atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan
dan harapan atau untuk tidak apa-apa
kami tidak tahu,kami tidak lagi bisa berkata
kaulah yang sekarang berkata,kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak kenang,kenanglah kami
teruskan,teruskan jiwa kami
menjaga bung karno
menjaga bung hatta
menjaga bung sjahrir kami mayat
berikan kami arti
berjagalah terus digaris batas pernyataan dan impian kenang,kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang yang diliputi debu
beribu kami terbaring antara kerawang-bekasi ayo! bung karno kasi tangan mari kita bikin janji
aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu,digarami lautmu dari mulai tanggal 17 Agustus 1945
aku melangkah kedepan berada rapat disisimu
aku sekarang api aku sekarang laut
bung karno!kau dan aku satu zat satu urat
dizatmu dizatku kapal-kapal berlayar
diuratmu diuratku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh
by: Chairil Anwar